2.1 Tujuan Pendidikan Dalam Al-Quran: Kajian Surat al-Furqan ayat 63-77.
Kurikulum di Indonesia saat ini mengacu pada pola pendidikan Barat. Beberapa hal yang tampak dari perumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan tokoh-tokoh Barat, bahwa tekanan utama pendidikan diarahkan pada pengembangan kemampuan intelektual anak didik, dan juga mengasah aspek emosionalnya. Bahkan pendidikan yang dilakukan sama sekali tidak mengenal nilai-nilai spiritual atau ideal transendental. Artinya pendidikan yang diterapkan bercorak sekularistis yang mana nilai-nilai keagamaan tidak mendapatkan tempat dalam proses tersebut. Hal ini dikarenakan anggapan mereka yang mengatakan bahwa nilai-nilai spiritual adalah hal yang natural serta manusiawi, dan merupakan urusan masing-masing individu.
Rumusan tujuan yang ditawarkan pendidikan Barat tersebut tentu kurang mencakup terhadap keseluruhan aspek pertumbuhan/perkembangan anak didik yang hendak dibina menjadi manusia seutuhnya lahir dan batin. Sehingga Pendidikan Islam merumuskan kembali tujuan pendidikan melalui Surat Al Furqan ayat 63-77 yang tanpa mengabaikan nilai-nilai keagamaan dan lebih universal dibanding pendidikan Barat. Pembentukan kepribadian mulia bagi setiap peserta didiknya dan menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa.
2.2 Menghimpun Ayat-ayat.
Surat al-Furqan yang keseluruhan berjumlah 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Kelompok ayat-ayat yang digunakan adalah ayat terakhir surat al-Furqan yakni antara ayat 63-77, terdiri dari 15 ayat yang sering disebut dengan ayat-ayat ‘Ibad ar-Rahman.
Teks Ayat dan Terjemahnya
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٦٦ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا ٦٨ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا ٦٩ إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَئَِّاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٧٠ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ٧١ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا ٧٢ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بَِٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ٧٣ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ٧٥ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ٧٦ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ٧٧
Berikut terjemahan surat al-Furqan ayat 63-77, yaitu:
63). dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orangyang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
64). dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untukTuhan mereka.
65). dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaanyang kekal".
66). Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempatkediaman.
67). dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidakberlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.
68). dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allahdan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapayang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
69). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Diaakan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina,
70). kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amalsaleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Danadalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
71). dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, MakaSesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarbenarnya.
72). dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabilamereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatanperbuatanyang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjagakehormatan dirinya.
73). dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayatTuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orangyang tuli dan buta.
74). dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepadaKami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati(Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
75). mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalamsyurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut denganpenghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya,
76). mereka kekal di dalamnya. syurga itu Sebaik-baik tempat menetap dantempat kediaman.
77). Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidakmengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimanakamu beribadat kepada-Nya), Padahal kamu sungguh telahmendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)".
Asbab an-Nuzul ayat
وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا ٦٨
Artinya:“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allahdan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapayang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan)dosa(nya)”.
Al-Bukhori berkata: Musaddad menceritakan kepada kami; Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan, ia berkata: Manshur dan Sulaiman menceritakan kepadaku dari Abu Wa-il dari Abu Maisarohdari Abdullah, berkata (yakni Sufyan ats-Tsauri): dan telah menceritakankepadaku Washil dari Abu Wa-il dari ‘Abdullah RA, (ia berkata) :
“aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Dosa manakah yang paling besar?” Rasulullah SAW menjawab : “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, sedangkan Dialah yang telah menjadikan dirimu”. Aku bertanya kembali:” Kemudian dosa apalagi?”. Rasul menjawab: ”Kemudian kamu membunuh anakmu karena khawatir dia akan ikut makan bersamamu”. Aku bertanya kembali :”Kemudian dosa apalagi?”. Rasul menjawab: ”jika kamu berzina dengan istri tetanggamu.”(‘Abdullah) berkata, dan turunlah ayat ini membenarkan perkataanRasulullah SAW. “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah(membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.”90
Sebab turunnya ayat 68 diterangkan dalam hadits riwayat Bukhari yang menyatakan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang dosa apa yang paling besar yang dilakukan manusia. Nabi menjawab bahwa dosa besar bagi manusia yang menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang hak, dan melakukan zina. Kemudian Allah menurunkan suratal-Furqan ayat 68 yang membenarkan jawaban Nabi, yang berisi larangan untuk berbuat syirik, membunuh jiwa yang hak (benar) dan berzina.
Korelasi (munâsabah) ayat
Korelasi ayat lain dengan ayat 70 Al-Furqan:
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَئَِّاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٧٠
Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amalsaleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Al Bukhori berkata: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, Sa`id bin Jubair menceritakan kepadaku, dan ia berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Hakam dari Sa`id bin Jubair, ia berkata:
“Abdurrahman bin Abza memerintahkan aku, ia berkata, “tanyakan kepada Ibnu Abbas tentang dua ayat ini, apa maksudnya : “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah(membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar” dan “barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja”. Maka aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ia menjawab, “tatkala turun ayat dalam surat Al Furqan, berkatalah kaum musyrikin Mekkah, “sungguh kami telah membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (membunuhnya) dan kami menyembah tuhan yang lain bersama Allah dan kami telah berbuat keji (zina).” Maka, Allah menurunkan ayat: “kecuali orang-orang yangbertaubat”. Adapun ayat yang ada dalam surat an-Nisa`, (maksudnya) apabila seseorang telah mengenal Islam dan syariat-syariatnya kemudian ia membunuh, maka balasannya adalah jahannam ia kekal di dalamnya.Aku lalu menyebutkannya kepada Mujahid dan ia berkata, ‘kecuali orang yang menyesal (bertaubat)’.”
Hadits ini menjelaskan bahwa barangsiapa yang melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah (seperti yang telah disebutkan pada ayat 68) maka balasannya adalah ditempatkan di neraka jahannam. Namun, kemudian Allah menurunkan ayat 70 yang menyatakan bahwa hal itu terkecuali bagi orang-orang yang bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Hadits Penunjang
Hadits yang menguatkan Al Furqan ayat 74:
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤
Artinya: “Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlahkepad Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenanghati (Kami), dan Jadikanla ah Kami imam bagi orang-orang yangbertakwa.”
Al-Maraghi menjelaskan penafsiran ayat ini, bahwa hamba-hambaar-Rahman yang dimaksud adalah; “Orang-orang yang memohon kepada Allah agar melahirkan keturunan yang taat dan beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, apabila melihat keluarganya sama dengannya, taat kepada Allah, maka dia akan merasa senang dan gembira, dia mengharapkan mereka dapat berguna baginya di dunia selama hidup dan matinya serta bertemu dengannya di akhirat. Mereka juga memohon kepada Allah agar Allah menjadikan mereka para imam yang diteladani dalam menegakkan panji-panji agama dengan menganugerahkan ilmu yang luas kepada mereka, dan memberi taufik kepada mereka untuk mengerjakan amal saleh.”
Dijelaskan pula Quraish Shihab bahwa ayat ini menyatakan hamba-hamba Allah tersebut adalah mereka yang juga senantiasa berkata yakni berdoa setelah berusaha dengan: wahai Tuhan kami, anugerahkan buat kami, dari pasangan-pasangan hidup kami yakni suami atau istri serta anak keturunan kami, kiranya mereka semua menjadi penyejuk-penyejuk mata kami, dan orang lain melalui budi pekerti dan karya-karya mereka yang terpuji, dan jadikanlah kami yakni yang berdoa bersama pasangan dan anak keturunannya.
Dalam tafsir al-Munir pun, az-Zuhaily menyatakan bahwa, Mereka adalah orang berdoa sepenuh hati kepada Tuhan mereka agar diberi anugerah istri-istri sholihah dan anak-anak yang beriman, shaleh, memberikan petunjuk pada Islam dan melakukan kebaikan, menjauhkan dari keburukan, mampu menyejukkan mata mereka. Karena sesungguhnya orang mukmin jika melihat seseorang yang perbuatan mereka dilandasi taat kepada Allah maka menjadikan penyejuk mata mereka, dan merekaberdoa pula kepada-Nya agar menjadikannya pemimpin dalam kebaikan, ataupun pemimpin- pemimpin agama.
Kata qurrah pada mulanya berarti dingin. Yang dimaksud disini adalah menggembirakan. Sehingga dipahami bahwa istri yang sholihah dan anak-anak yang sholih yang dimilikinya tersebut dapat memberikan kegembiraan, menyejukkan hati, sebab senantiasa dapat memberikan manfaat kepada suami, baik di dunia dan di akhirat. Yang mana dari istri-istri shalehah tersebut, maka diharapkan akan lahir anak-anak yang saleh dan shalehah pula.
Kemanfaatan tersebut bukan hanya didapat dalam kehidupan saja, namun juga akan tetap mengalir hingga dia sudah meninggal seperti diterangkan Rasulullah SAW. dalam sabdanya:
عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِى اللهُ عَنْهُ أَنَ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللُه عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : إِذَا مَاتَ ابنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلَهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ - مسلمٌ -
Artinya:“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara yakni, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dananak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim, Hadits:1631)
Hadits ini menerangkan bahwa kemanfaatan yang didapat dari anak-anak yang saleh adalah mereka yang senantiasa berdoa untuk orangtuanya hingga kematiannya. Sehingga amal kedua orang tuanya tetapmengalir meskipun sudah meninggal.
Secara ringkasnya dalam ayat ini menerangkan hamba-hamba ar-Rahman adalah mereka yang selalu memohon atas dua perkara kepadaAllah, yakni agar Allah memberi mereka istri dan keturunan yang beribadah hanya kepada-Nya sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan agar Allah menjadikan mereka sebagai para pemberi petunjukdan keteladanan dalam hal kebaikan (urusan-urusan agama) bagi orangorang yang mau mengikuti petunjuk. Sifat hamba Allah tersebut mengindikasikan tidak hanya terbatas pada upaya penghiasan diri sendiri.
2.3 Istinbath Surat Al-Furqan Ayat 63-77
Dari uraian yang penulis literasikan, maka surat al-Furqan ayat 63-77 memiliki inti kandungan:
A. Membentuk pribadi yang berakhlak mulia
B. Memantapkan aspek aqidah
C. Menanamkan konsistensi dalam melaksanakan ajaran agama
D. Menumbuhkan sikap kesederhanaan dan keseimbangan
E. Mengembangkan aspek intelektualitas
F. Meningkatkan kualitas kesalehan keluarga dan masyarakat
PENUTUP
Kesimpulan
Dari seluruh uraian pendapat para mufassir, maka dapat disimpulkan bahwa al Furqan ayat 63-77 yang menjelaskan tentang sifat-sifat Ibad ar-Rahman, yaitu sebagai berikut:
a. Tawadhu’.
b. Membalas kejelekan dengan kebaikan.
c. Senantiasa tahajud di keheningan malam.
d. Ketakutan mereka terhadap adzab Allah.
e. Tidak berlebihan dalam membelanjakan harta.
f. Tidak menyekutukan Allah.
g. Tidak membunuh.
h. Tidak berzina.
i. Tidak bersumpah palsu.
j. Tidak melakukan perbuatan yang tidak berfaedah.
k. Ketenangan dalam berkeluarga dan keturunan yang saleh.
l. Senantiasa mengharapkan taufik dari Allah.
Sehingga balasan bagi hamba ar-Rahman tersebut tertuang pada ayat terakhir, yang menjelaskan bahwa perhatian yang diberikan Allahkepada hamba-hamba-Nya berupa pemberian martabat tinggi tersebut dikarenakan ibadah yang dilakukannya, bukan oleh sebab lain. Tanpa beribadah mereka tidak memiliki sedikit bobot dan tidak akan mendapat perhatian-Nya.
Pendidikan memiliki tujuan, sehingga proses yang dilakukan dapat terarah. Melalui pembahasan surat al Furqan ayat 63-77 dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan Pendidikan Islam itu mengarah pada pembentukan sifat-sifat Ibad ar-Rahman. Dalam konteks ini dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
b. Memantapkan aspek aqidah.
c. Menanamkan konsistensi dalam melaksanakan syariat agama.
d. Menumbuhkan sikap kesederhanaan dan keseimbangan.
e. Mengembangkan aspek intelektualitas.
f. Meningkatkan kualitas kesalehan keluarga dan masyarakat.
Saran-saran
Saran-saran yang dapat penulis sampaikan terutama kepada pembaca adalah sebagai berikut:
1. Laksanakan ajaran Islam sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
2. Berjuanglah untuk menegakkan kalimat Allah, mungkin dua atau tiga hari kemudian akan berhasil, sebab kebenaran dari Allah pasti akan datang, oleh karena itu tidak boleh ragu-ragu walaupun banyak rintangan dan halangan terhadap kita.
3. Dalam menyusun karya tulis ini penulis menyadari adanya kekurangan serta sangat singkat sekali, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan sekali saran dan kritikan untuk perbaikan dan tak lupa penulis menghaturkan banyak terima kasih, semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Kariem In Word
Az-Zuhaily, Wahbah. Tafsirul-Munir, (Bairut Darl Islamiyah)
Al-Maraghy, Musthafa. Tafsir al-Maraghy, (Darl Kutub Islamiyah, Mesir)
Samela, Maktabah. Software Hadith,
Anwar, Rosihan. Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 2005).
Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Hasan, Hamka. Tafsir Gender: Studi Perbadingan antara Tokoh Indonesia dan Mesir, (Jakarta: Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2009).
Muhaimin, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005).
Shihab, M. Quraish. Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an, (Tangerang: Lentera Hati, 2013).
By: Hafizhin Hafizh (8 Jumadal-Akhirah 1438H)
By: Hafizhin Hafizh (8 Jumadal-Akhirah 1438H)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar